Air PDAM Mati Saat Lebaran, Warga Tebingtinggi Mengeluh di Media Sosial

Momen Lebaran seharusnya menjadi waktu yang penuh sukacita bagi masyarakat, tetapi bagi warga Kota Tebingtinggi, perayaan tersebut berubah menjadi pengalaman yang penuh keluhan. Layanan air bersih dari PDAM Tirta Bulian dilaporkan mengalami gangguan total di beberapa wilayah, yang kemudian memicu reaksi negatif di berbagai platform media sosial.
Keluhan Warga di Media Sosial
Keluhan tersebut semakin mengemuka di kolom komentar unggahan Facebook milik Wali Kota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih. Postingan yang awalnya bertujuan untuk menyebarkan semangat Lebaran justru bertransformasi menjadi ajang kritik dari warga yang merasa dirugikan.
Banyak warga melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan aliran air selama dua hari berturut-turut. Beberapa di antaranya mengeluhkan bahwa air tidak mengalir sama sekali, sementara yang lain mengungkapkan bahwa kualitas air yang tersedia sangat buruk, keruh, dan berbau tidak sedap.
Salah satu warga menulis, “Air mati dari semalam, sampai sekarang belum hidup. Ini masih suasana Lebaran, banyak keluarga berkumpul di rumah.”
Keluhan lain menyoroti kondisi yang lebih mendalam terkait kebutuhan dasar. Seorang pengguna internet menyatakan, “Kami sampai harus menggunakan air minum untuk keperluan buang air. Piring dan pakaian menumpuk. Kami bayar setiap bulan, tetapi air sangat sulit didapat.”
Dari wilayah Kelurahan Mekar Sentosa hingga Tambangan Hulu, laporan serupa terus bermunculan. Banyak yang mengeluhkan aliran air yang sangat kecil, tidak bisa naik ke wastafel, bahkan ada yang mengalami pemadaman total.
Biaya yang Tidak Seimbang dengan Kualitas Layanan
Selain masalah distribusi, warga juga menyoroti harga tarif yang dianggap tidak sebanding dengan kualitas layanan yang diterima. “Bayarannya mahal,” ungkap seorang netizen, singkat namun tepat sasaran.
Keluhan ini mencerminkan akumulasi rasa frustrasi yang selama ini terpendam, dan meledak pada momen sensitif seperti Lebaran. Kekecewaan ini menunjukkan bahwa masalah layanan publik sering kali tidak dapat diabaikan.
Tanggapan dari Wali Kota
Menanggapi gelombang kritik yang muncul, Iman Irdian Saragih memberikan pernyataan yang justru memicu polemik baru di kalangan masyarakat. Ia mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan Sekretaris Daerah untuk memanggil kedua calon direktur PDAM guna melakukan perbaikan segera.
Pernyataan ini mendapatkan tanggapan negatif dari sejumlah pihak, termasuk tokoh pemuda Tebingtinggi, Aswadi Simatupang, yang mengkritik langkah tersebut. “Aneh. Kenapa calon direktur yang dipanggil? Seharusnya Plt Direktur yang bertanggung jawab,” ucapnya dengan tegas.
Aswadi menilai bahwa permasalahan air bersih tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan seremonial atau respons yang reaktif di media sosial. “Warga sudah muak dengan seremoni. Yang dibutuhkan sekarang adalah solusi nyata dan cepat,” lanjutnya.
Pernyataan Plt Direktur PDAM
Sementara itu, Plt Direktur PDAM, Roy Abdul Rahman, menjelaskan bahwa gangguan yang terjadi disebabkan oleh kabel induk di instalasi pengolahan air (WTP) yang mengalami kebakaran. “Perbaikan sudah dilakukan, tetapi distribusi ke pipa induk masih belum maksimal. Hari ini kami masih melakukan pengecekan,” ujarnya.
Namun, bagi banyak warga, penjelasan teknis tersebut tidak lagi menjadi prioritas. Apa yang mereka rasakan di lapangan jauh lebih penting daripada sekadar alasan penyebab gangguan.
Pertanyaan Tentang Kekosongan Jabatan
Di balik masalah ini, terdapat persoalan struktural yang tidak kalah penting: kekosongan jabatan Direktur Definitif PDAM yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Sejak Januari 2023, tiga nama calon direktur telah diumumkan melalui proses uji kelayakan dan kepatutan. Namun hingga saat ini, Wali Kota belum juga menetapkan siapa pemimpin definitif yang akan diangkat.
Aswadi Simatupang menegaskan bahwa kekosongan ini berdampak langsung pada lemahnya tata kelola PDAM. “Kekosongan kepemimpinan bukan sekadar masalah administratif. Ini bisa jadi penyebab lambannya respons dan keruwetan operasional yang terjadi,” tegasnya.
Pentingnya Layanan Air Bersih
Kasus ini bukan hanya sekadar gangguan teknis, melainkan juga mencerminkan problem mendasar dalam pelayanan publik. Air bersih merupakan kebutuhan dasar. Ketika layanan tersebut gagal, terutama pada saat penting seperti Lebaran, yang muncul bukan hanya keluhan, tetapi juga krisis kepercayaan dari masyarakat.
Langkah Selanjutnya untuk Pemerintah Kota
Kini, tantangan ada di tangan Pemerintah Kota Tebingtinggi: apakah mereka akan memberikan respons cepat dengan solusi yang nyata, atau membiarkan krisis ini menjadi catatan panjang kegagalan dalam pelayanan publik? Keputusan yang diambil akan sangat menentukan nasib kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang seharusnya mereka terima.